this is how that feeling grows
ga ada yang spesial dari awal pertemuan itu. hanya dua orang pelajar yang ternyata satu sekolah tapi baru kenal di tempat bimbel. dua orang pelajar yang akhirnya terlibat dalam satu “kelompok permainan” di tempat bimbel itu. dua orang pelajar yang akhirnya dituntut untuk terlibat dalam banyak percakapan.
sampai akhirnya, gue mulai merasa nyaman dengan semuanya. dengan obrolannya. dengan sikapnya. dengan dia.
ketika gue gagal, dia tempat gue cerita. ketika gue merasa tertekan dengan keadaan rumah, dia tempat gue cerita. dan akhirnya, rasa nyaman itu tumbuh semakin besar. jadi rasa sayang.
komitmen itu pun terucap. yang muda yang berkasih. mungkin itu kalimat yang tepat pada saat itu.
tapi sekarang, setelah hampir 3 tahun, entah kenapa semua terasa jauh. semua ga seperti dulu lagi. semua berubah. mungkin cuma rasa sayang gue yang belum berubah. dan mungkin inilah saat yang tepat buat gue untuk belajar.
dia pantas dan layak mendapat orang yang jauh lebih baik dari gue dalam segala hal.
dia pantas dan layak mendapat orang yang bisa selalu buat dia senyum.
dia pantas dan layak mendapat orang yang selalu bisa ada disamping dia dalam keadaan apapun.
ini saatnya buat gue untuk belajar, bahwa apapun akhirnya gue harus terima itu.
apapun akhirnya, gue harus ikhlas atas keputusan bersama itu.
bahwa rasa sayang adalah ketika lo harus membiarkan orang yang lo sayang itu untuk pergi dan mendapatkan segala yang lebih baik.